Sepatu Luna

Desember 17, 2006 - Leave a Response

“Sol, menurutmu aku lebih pantas pakai sepatu yang mana? Merah? atau yang biru?”. Luna bertanya kepadaku.

Pukul 18.13, menurut jam dinding warna hitam yang terpasang di ruang tamu rumah Luna. Aku sudah duduk di ruangan ini selama hampir setengah jam. Setengah jam yang penuh pertanyaan Luna. Baju, pita, tas tangan, gaya rambut dan kini sepatu.

Malam ini Luna dan aku akan pergi ke acara ulang tahun Viska, teman sekelas Luna. Menurut undangan, acaranya akan dimulai pukul 19.00.

Viska adalah salah satu teman baik Luna. Gadis mungil yang sering dipanggil Si Kawat itu- karena kawat gigi yang dipakainya selama 2 tahun terakhir- hari ini berulang tahun yang ke-17. Sweet seventeen. Suatu peristiwa penting yang bagi anak-anak sekolah macam kami harus dirayakan secara spesial. Aku sendiri masih 3 bulan ke depan baru menginjak umur sakral itu. Tidak ada rencana untuk aku rayakan.

“Hmm.. menurutku, pakai yang biru saja.. “. Jawabku asal-asalan.
“Kenapa?”. Luna bertanya balik kepadaku. Salah satu kebiasaan Luna yang mengesalkanku, dia tidak pernah puas dengan jawabanku kalau tidak ada alasannya. Mungkin juga dia hanya sedang menggodaku.
“Kenapa !?!?. Memangnya pakai sepatu biru harus ada alasannya ya, Lun ?”.
“Hehehe.. ya iyalah, Sol!. Aku kan pingin tahu. Kenapa kamu lebih milih yang biru daripada yang merah. Harus sayentifik dong!”, Luna tersenyum nakal kepadaku.
Ternyata benar, dia sedang menggodaku. Aku tersenyum saja mendengarnya. Sayentifik adalah kata yang sering dipakai guru fisika ku, Mr. Serkis. Berasal dari kata scientific, tentu saja. Mr. Serkis sering mengucapkan kata itu ketika kami sedang beradu argumen dengannya. Dengan tekanan pada huruf ‘s’ dan ‘f’ yang berlebih.

“Ya… karena aku tahu. Kalau aku bilang merah, kamu bakalan pakai yang biru….”
” dan kalau kamu milih yang biru aku bakalan pakai yang merah?”, Luna memotong kalimatku.
“Yap!.. saudari Luna. Kamu benar sekali.”
“Jadi menurutmu aku lebih cocok pakai sepatu yang merah ini ya, Sol?”
Aku mengangguk saja. Capek juga punya teman seperti Luna
“Ya sudah aku pakai yang merah saja. Tunggu sebentar lagi ya, Sol”

Luna masuk kembali ke kamarnya.
Aku baru sadar. Ternyata ruang tamu ini sedikit banyak masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Yang berbeda hanyalah jumlah foto yang dipajang. Kini semakin banyak. Dulu dinding ruang tamu ini hanya ada beberapa foto keluarga Mr Rivan, ayah Luna. Oh iya, karpetnya juga sudah berubah. Mungkin suasananya, yang membuatku merasa ruangan ini masih sama seperti dulu. Hangat, akrab, nyaman. Aku suka berada di ruang tamu ini. Tapi aku tetap tidak suka menunggu.

Beberapa saat kemudian Luna keluar dari kamarnya. Dia tampak sudah siap. Memakai gaun putih panjang dengan motif bunga. Rambutnya dia biarkan tergerai, dengan diikat pita.. atau bando? atau bandana?. Entah apa namanya, tapi pita-pitaan tebal itu berwarna coklat senada dengan tas tangannya, yang juga bernuansa coklat. Dia terlihat cantik.

“Ma.. Mama. Luna pergi dulu ya!”, Luna memanggil Mrs. Rivan, yang saat itu sedang berada di ruang baca.
Mrs. Rivan pun keluar. Badannya tinggi, agak gemuk. Tidak seperti Luna yang terlihat mungil.

“Mau pergi ya?”, tanya Mrs. Rivan. Dia tersenyum kepadaku
“Iya Ma.. udah jam setengah tujuh nih. Kan mau ambil kado dulu di tempatnya Paman Reno. Eh. Ma, komunikator Luna dimana ya. Mama liat nggak?”, kata Luna sembari sibuk membuka-buka lemari, mencari komunikatornya.
“Tadi mama liat ada di dapur, say. Makanya kalau naruh komunikator tuh jangan sembarangan. Kamu ini.. kalau ketauan Papa bisa diceramahin kamu..!”
“Hehe. Mama.. maklum.. kan Luna orang sibuk”.
Luna pun pergi ke dapur.

“Sol, tulisanmu di koran sekolah kemarin. Tante udah baca lho. Luna kemarin yang kasih tau”.
“Oh ya, tante?”
“Iya, bagus lho..”, puji Mrs. Rivan
“Ah, Tante ini bisa saja kalau memuji. Saya baru belajar Tante, nggak kaya Tante yang tulisannya keren-keren”
“Ya, Tante juga kan dulunya belajar juga, Sol. Tapi bener kok, tulisan kamu bagus. Jangan bosen-bosen menulis ya.. Kamu punya bakat lho”
“Iya Tante, terimakasih. Kapan-kapan Sol diajarin tentang tulis menulis lagi. Kemarin juga kan Sol nulis artikel itu setelah dapat inspirasi dari Tante”
“Beres! Asal sering-sering aja Tante dikirimi kue jahe buatan ibumu itu.”, balas Mrs. Rivan.Tersenyum.
Beliau memang penggemar berat kue jahe buatan ibuku. Sama seperti aku dan orang-orang lain yang kenal dengan ibuku. Oleh karena itu ibuku sering dipanggil Ibu Kue Jahe oleh ibu-ibu lainnya.

“Ya udah ya, Ma..”, celetuk Luna. Membuatku mengurungkan niatku untuk berbicara lebih panjang dengan Mrs. Rivan
“Luna sama Sol pergi dulu, kasian Paman Reno, ntar nungguin”, kata Luna sambil tersenyum usil menjulurkan lidahnya.
“Ah, kamu itu, say. Yang bikin lama kan kamu sendiri”
Luna tertawa.
“Oh iya say, pulangnya jangan lebih dari jam sepuluh ya. Inget lho.. besok kan mau lari pagi bareng Papa sama Selene.”
“Ih, Mama. Luna udah kaya Cinderela aja deh. Pakai jam malam segala”, kata Luna sambil menyalami dan mencium tangan Mrs. Rivan.
“Ya kamu kan memang cantik kaya Cinderella, say”.
“MMuuach” Mrs. Rivan mencium pipi Luna.
“Mama..! udah ah!”, Luna terlihat tersipu malu. Dia kurang suka diperlakukan seperti anak kecil dihadapan teman-temannya. Tapi kurasa memang dia dasarnya anak yang manja. Apalagi sama Ibunya. Kebalikan dari adiknya, Selene, yang sangat manja dengan Mr. Rivan.

“Ayo, Sol!”, Luna bergegas ke pintu keluar, sambil menarik tanganku

“Tante, Sol pamit dulu ya..”, kataku kepada Mrs.Rivan.
“Iya.. hati-hati nyetirnya ya, Sol!”.

“Daah Mama!”, Luna membuka pintu.
“Sol, cepetan!”, kata Luna sembari masih menarik tanganku.

“Sabar dong, Lun. Baru juga setengah tujuh..”
Luna menutup pintu rumahnya lalu berlari kecil menuruni tangga menuju Transporter hijau Ayah yang kuparkir di pinggir jalan. Tanpa sengaja aku melihat sepatunya yang dipakainya. Warna biru.

“Lun, kamu jadinya pakai yang warna biru?”, tanyaku.
“Apa?.”, dia berbalik melihatku.
Aku melihat ke sepatunya.

“Oh, sepatunya ?.. Iya aku pake yang biru saja”, jawabnya.
“Kenapa?”, tanyaku lagi. Penasaran.
“Karena kamu bilang begitu..”, dia menjawab. Seperti biasa, asal.

“Huh. nggak sayentifik!”